Nusa Tenggara Barat, BeritaTKP.com – Salah seorang oknum polisi berinisial MN ,38, di Polsek Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat yang menembak mati rekannya terancam hukuman mati.

Kapolres Lombok Timur, AKBP Herman Suriyono mengatakan bahwa ancaman pidana untuk MN itu masih dalam proses pemenuhan alat bukti.

“Jadi sekarang kita sedang menggali fakta-fakta untuk membuat terang perbuatan pidananya, apakah pelaku ini kita terapkan Pasal 338 atau Pasal 340, tentunya ini akan terungkap dari hasil penyidikan,” kata Suriyono, Selasa (26/10).

Ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup itu diatur dalam pidana pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Kemudian pasal 338 KUHP mengatur tentang pembunuhan yang ancaman pidananya paling lama 15 tahun penjara.

Suriyono lalu meminta masyarakat terutama keluarga korban agar mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak polisi. Dia menjamin pihaknya akan serius dalam menangani kasus tersebut.

“Mohon agar kami diberikan waktu untuk mengungkap kasus ini dan sekarang kami sedang bekerja untuk melengkapi barang bukti yang ada,” ujarnya.

Insiden penembakan tersebut terjadi disalah satu rumah yang terletak di BTN Griya Pesona Madani, Kabupaten Lombok Timur pada Senin (25/10).

Berdasarkan hasil dari olah TKP, korban tewas pada pukul 11.20 Wita atau sekitar empat jam setelah seorang saksi menemukan jenazahnya yang tergeletak bersimbah darah.

Dari hasil autopsi di RS Bhayangkara Mataram, korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak yang bersarang di bagian dada sebelah kanan korban.

Hasil tersebut turut dikuatkan dengan temuan di TKP, yakni ada dua selongsong peluru yang diduga berasal dari senapan serbu perorangan SS-V2 Sabhara.

Aksi penembakan kepada anggota Humas Polres Lombok Timur, Brigadir Polisi Satu berinisial HT ini pun terungkap dari pengakuan pelaku yaitu Brigadir Polisi Kepala yang berinisial MN ,38,.

Pengakuan tersebut disampaikan MN ketika mengembalikan senapan serbu perorangan itu ke tempatnya bertugas. Pelaku menembak korban itu terjadi saat dia piket pagi. (RED)