Pacitan, BeritaTKP.com – Peredaran uang palsu telah berhasil diungkap oleh Polres Pacitan. Pihaknya juga telah mengamankan puluhan juta mata uang rupiah palsu yang didapat dari kedua tangan tersangka.

“Berawal karena adanya laporan dari masyarakat terkait dengan pembelian handphone dengan uang yang diduga palsu,” pungkas Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono, Kamis (23/12/2021).

Pembelian HP tersebut dilakukan oleh tersangka BS ,21, warga asal Kecamatan Punung dan penjualnya adalah Aksal Haris ,30, warga asal Desa Glinggangan, Kecamatan Pringkuku.

Pengungkapan tersebut berawal saat korban dimintai tolong rekannya untuk menjualkan smartphone miliknya. Handphone merk Infinix warna biru itu pun akhirnya ditawarkan melalui forum jual beli.

Selang sehari kemudian, korban memperoleh pesan dari pelaku melalui Whatsapp. Keduanya lantas sepakat bertemu di sebuah warung makan di Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku.

Kemudian pada sekitar pukul 22.30 wib. Setelah melihat-lihat barangnya, pelaku akhirnya setuju membeli perangkat komunikasi tersebut dengan harga Rp 1.675.000. Proses transaksi disaksikan oleh rekan korban yang bernama Aditya Andika Pratama.

Usai transaksi, korban melihat kejanggalan pada uang yang diterima dari pelaku. Uang yang terdiri dari pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, dan 5 ribu tersebut relatif berbeda dengan uang rupiah pada umumnya. Hal itu membuat ia melapor ke pihak kepolisian.

“Kami adakan pengungkapan dan tertangkaplah saudara BS. Kemudian kita lakukan pengembangan,” papar kapolres.

Hasilnya, tersangka BS memesan secara online uang palsu kepada NI ,35,. Tersangka kedua merupakan warga asal Majalengka, Jawa Barat. Tersangka NI diamankan tanpa perlawanan di rumahnya.

Dari penggerebekan tersebut, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti berupa uang palsu senilai Rp 26 juta.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka kini harus menjalani pemeriksaan di Mapolres Pacitan. “Akan dipidana dengan pasal 36 ayat 1 , 2, dan 3 UU nomor 7/2011 tentang mata uang. Ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara,” tandas AKBP Wiwit Ari Wibisono. (k/red)