Jombang, BeritaTKP.com – Polsek Jogoroto Jombang telah mengamankan sebanyak 7.260 butir pil koplo jenis dobel L dari hasil ungkap kasus penyalahgunaan narkoba. Ribuan pil haram tersebut didapat dari tangan tersangka.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, peredaran pil koplo tersebut diduga dikendalikan oleh salah satu Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) yang berada di Jawa Timur. Pelaku tersebut bernama Eko Wahyu Setyawan alias Jomeng, warga asal Dusun Babut, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

“Pelaku ditangkap di warung kosong di depan lapangan Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang pada Minggu (26/12/2021) sekitar pukul 20.00 wib,” terang Kapolsek Jogoroto AKP Achmad Darul Hudha, Senin (27/12/2021).

Penangkapan tersangka bermula karena adanya laporan dari masyarakat bahwa ada transaksi obat terlarang di warung kosong. Penyelidikan pun kemudian dilakukan. Dari situ, petugas berhasil mengamankan seorang saksi yang bernama Zainul Arifin alias Ipin yang kedapatan membawa 32 butir pil dobel L.

Polisi kemudian melakukan pengembangan dan menemukan 4 plastik klip dengan jumlah total 200 butir pil dobel L di warung kopi milik Ipin di Dusun Banjarpoh, Desa Palrejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Kepada penyidik, Ipin mengaku bahwa pil haram tersebut ia beli dari Eko Wahyu Setyawan. Tak membuang waktu, polisi lalu memburu Eko. Dari penggerebekan di rumah Eko, polisi menemukan ribuan pil koplo siap edar. Rinciannya adalah 1 plastik berisi 428 butir pil dobel L, serta 1 botol plastik putih berisi 60 plastik klip berisi pil dobel L dengan jumlah keseluruhan 600 butir.

Kemudian 1 botol plastik putih berisi 1000 butir pil dobel L, 5 plastik berisi pil dobel L dengan jumlah keseluruhan 5.000 butir, 3 plastik berisi 300 plastik klip. “Totalnya 7.260 butir pil koplo. Serta disita pula 1 unit handphone merek Vivo,” paparnya.

Dalam pemeriksaan, Eko mengaku bahwa ribuan pil koplo itu diperoleh dari seseorang yang menghuni Lapas di Jatim. Namun demikian, polisi terus mendalami pengakuan tersebut.

“Pelaku dijerat pasal 196 Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu mengedarkan sediaan farmasi berupa pil dobel L tanpa izin,” tegas Darul Hudha. (k/red)