Kediri, BeritaTKP – Satresnarkoba Polres Kediri Kota berhasil menggagalkan peredaran narkoba senilai puluhan juta rupiah. Ini setelah mereka mengamankan 18,18 gram sabu-sabu (SS) dan 75,9 ribu butir pil dobel L (LL) dari dua tersangka Kamis (17/3) malam lalu. Kedua kurir itu disebut-sebut dikendalikan oleh pengedar besar yang mendekam di lembaga pemasyarakatan (lapas).

Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, dua kurir yang ditangkap sekitar pukul 22.30 Kamis malam lalu adalah FA, 21, asal Kelurahan Tosaren, Pesantren; serta MI, 20, asal Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota Kediri. “Mereka ditangkap di tempat kosnya Jl Dewi Sartika, Kelurahan Singonegaran, Pesantren,” kata Kasatresnarkoba Polres Kediri Kota AKP Subijanto.

Lebih jauh perwira dengan pangkat tiga balok di pundak ini menjelaskan, pengamanan puluhan ribu dobel L dan belasan gram SS itu bisa dilakukan setelah anggotanya melakukan penyelidikan selama beberapa hari. Dari sana terdeteksi jika dua pria itu terhubung dengan komplotan narkoba jaringan Lapas Madiun.

Tak menunggu lama, tim buser satresnarkoba langsung menggeledah tempat kos FA dan MI di Jl Dewi Sartika, Kelurahan Singonegaran, Pesantren. Begitu memeriksa salah satu kamar, tim mendapati 76 botol plastik warna putih berisi dobel L. Tiap botol berisi masing-masing seribu butir LL. Hanya ada satu botol yang berisi 900 butir atau tidak lagi lengkap.

Polsek Mojo Pantau Puluhan ribu butir narkoba itu diletakkan di dalam kardus di samping lemari. Saat tim membuka lemari, mereka mendapati 18,18 gram SS yang disimpan di kaleng bekas tempat rokok. Polisi juga mengamankan psikotoprika jenis pil riklona clonazepam sebanyak 30 butir.

Selain tiga jenis narkoba tersebut, polisi juga mengamankan satu timbangan digital, satu alat hisap, satu bungkus rokok, satu kardus untuk menyimpan narkoba. Selanjutnya, korps baju cokelat mengamankan korek api dan ponsel yang digunakan untuk transaksi.

Tempat kos tersebut agaknya jarang ditempati. Melainkan hanya dijadikan tempat penyimpanan narkoba. “Mereka mengaku sudah mengantarkan narkoba selama hampir setahun,” jelas Subijanto.

FA dan MI, jelasnya, merupakan kurir yang bertugas meranjau. Yakni, meletakkan barang di tempat-tempat tertentu sesuai instruksi pengedar besar yang menjalani hukuman di lapas. Sebagai bukti dua tersangka melaksanakan tugas dengan baik, mereka harus mengirim foto ke komplotan tersebut.

Dari berbagai daerah di Kota dan Kabupaten Kediri, dua pria yang juga berstatus sebagai pengguna narkoba itu lebih sering meletakkan narkoba di wilayah perbatasan Kabupaten Kediri. “Nanti barang (narkoba yang diletakkan secara ranjau, Red) akan diambil orang suruhan lainnya,” beber Subijanto tentang modus peredaran narkoba terkini.

Dengan sistem putus tersebut, diakui Subijanto jika polisi agak kesulitan mengurai sindikat narkoba. Sebab, pelaku yang tertangkap sering kali mengaku tidak mengenal sindikat di bawahnya. Alasannya, mereka memang tidak pernah bertemu secara langsung. “Tujuannya memang untuk menghilangkan jejak transaksi pengedar dan bandar,” tegasnya.

Berdasar penyidikan yang dilakukan anggotanya, MI dan FA yang bekerja serabutan itu mendapat komisi setelah mengantar narkoba. Yaitu, Rp 50 ribu setelah mengantar seribu butir dobel L. Adapun untuk pengantaran satu gram sabu-sabu mereka mendapat Rp 100 ribu.

Untuk diketahui, dengan diamankannya 75 ribu butir dobel L dan 18,8 gram sabu tersebut, sedikitnya polisi menggagalkan peredaran narkoba senilai Rp 93 juta. Sebab, seribu butir dobel L sekarang dijual Rp 1 juta. Demikian pula dengan satu gram SS. “Kami masih terus berupaya mengembangkan kasus ini,” tegas Subijanto sembari menyebut satresnarkoba menduga masih banyak kurir lain yang terhubung dengan komplotan di Lapas Madiun.

Akibat perbuatannya, dua tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat (2) jo pasal 112 Ayat (2) UU No. 35/2009 tentang Narkotika. Kemudian, pasal 62 UU No. 05/1997 tentang Psikotropika. Serta, pasal 196 UU No. 36/2009 tentang Kesehatan. Keduanya diancam hukuman pidana penjara minimal 4 tahun dan paling lama 12 tahun. Serta denda paling sedikit 800 juta dan paling banyak Rp 8 miliar.(Muryati)