Kediri, BeritaTKP.com – Dusun Kapurejo Desa Pagu Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Di Dusun Kapurejo ada salah satu Pondok Pesantren tertua.

Pondok Pesantren Salafiyah namanya. Pondok ini sudah berdiri sejak 1890-an. Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo atau yang dikenal Pondok Kapu ini menjadi saksi bisu perjuangan sosok tokoh besar ulama Indonesia, K.H. Hasyim Asy’ari.

  1. Hasyim Asy’ari diketahui pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia. KH. Hasyim Asy’ari diketahui pernah tinggal di rumah yang berada dalam kawasan Ponpes Kapu. Pemilik Ponpes Kapu sendiri merupakan mertua dari KH. Hasyim Asy’ari.

Kiai Ahmad Najmuddin, generasi ketiga keluarga Pondok Kapu menuturkan, KH. Hasyim Asy’ari pernah tinggal di rumah yang saat ini disebut sebagai Kasepuhan 1 Pondok Kapu selama dua tahun. Hingga saat ini kediaman rumah KH. Hasyim Asy’ari masih ada.

 

Beliau (K.H. Hasyim Asy’ari) tinggal di sini tahun 1942-an. Beliau tinggal bersama Bu Nyai (istri K.H. Hasyim) saat itu,” ungkap Kiai Ahmad ditemui di depan rumah tinggal K.H. Hasyim Asy’ari, Jumat (8/4/2022).

Kiai Ahmad menceritakan awal mula kedatangan KH. Hasyim ke Pondok Kapu. Ulama besar yang juga turut memperjuangkan kemerdekaan RI ini hendak mengunjungi putri KH. Hasan Muchyi, yakni Nyai Masruroh.

Putri bungsu pendiri Ponpes Salafiyah Kapu tersebut saat itu sedang sakit keras. “Dengan bantuan dari Mbah Hasyim, Nyai Masruroh yang saat itu tengah sakit bisa berangsur membaik kesehatannya. Setelah itu beliau (Mbah Hasyim) dan Nyai Masruroh menikah,” ujar Kyai Ahmad.

Setelah pernikahan tersebut, KH. Hasyim turut membantu mendirikan madrasah. Kyai Ahmad menjelaskan, pada masanya, sang pendiri NU tersebut turut merintis madrasah di Pondok Kapu. KH. Hasyim turut menyebarkan syiar Islam melalui madrasah di pondok.

“Sampai pada akhirnya di tahun 1945-an beliau kembali ke Tebuireng Jombang dan sampai wafat di sana,” papar Kiai Ahmad.

Saat ini, Ponpes Salafiyah Kapurejo berada di bawah asuhan generasi ketiga dan keempat. Hingga sekarang, Ponpes Salafiyah tertua ini memiliki kurang lebih 400 santri dan santriwati. [ndaa/red]