Pasuruan, BeritaTKP.com – Perempuan di Pasuruan diduga sengaja membuang bayi yang baru dilahirkan ke sungai. Perempuan itu adalah PSK atau perempuan Open BO. Perempuan yang jadi tersangka di sungai itu mengaku menyembunyikan kehamilannya.
Selama hamil. pembuang bayi itu tidak pernah memeriksakan kandungannya kepada tenaga medis untuk menyembunyikannya dari orang lain.

“Pada hari akan melahirkan, Jumat 25 Maret, tersangka datang ke bangunan tempat pembuangan sampah di sekitar sungai kemudian melahirkan sendiri,” kata kata Kapolres Pasuruan Kota AKBP RM Jauhari, Jumat (22/4/2022).

Berdasarkan keterangan tersangka kepada polisi, bayi yang dia melahirkan sudah dalam kondisi tidak bergerak, tidak menangis, dan tidak bernapas saat keluar dari rahimnya.

Kemudian tersangka membungkus bayi itu berserta ari-arinya dengan spons yang ditemukan di lokasi, kemudian bayinya dibuang ke sungai.

Warga Dusun Krawan, Desa Kedawungwetan, Grati menemukan mayat bayi FKN itu di sungai pada Minggu 27 Maret lalu.

Penemuan bayi laki-laki yang masih lengkap dengan ari-arinya dan diperkirakan baru berusia sekitar 2-3 hari itu menggegerkan warga setempat yang kemudian melapor ke polisi.
“Kami mengungkap pelaku kejahatan yang dengan sengaja melakukan kekerasan yang menyebabkan matinya anak,” tambahnya.

Pelaku beralasan membuang bayi yang harusnya menjadi anak ketiganya, karena takut tak bisa merawat. KN (25) Warga Desa Kedawungwetan, Kecamatan Grati itu mengaku melayani para lelaki hidung belang itu di beberapa vila yang ada di kawasan Pandaan, hingga akhirnya ia hamil padahal tidak pernah berharap hamil.

“Tersangka janda yang sudah punya dua anak. Bayi yang dibuang anak ketiga. Bayi itu normal dikandung selama 9 bulan. Jadi dengan kehamilannya ini tersangka merasa tidak mampu untuk membesarkan bayinya nanti,” tegasnya.

Setelah melakukan olah TKP, polisi pun mulai melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil mendapatkan identitas pembuang bayi.

“Tersangka kami jerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak dan pasal pembunuhan berencana terhadap anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara,” pungkasnya.[ndaa/red]