Surabaya, BeritaTKP.com – Pakar Hukum Universitas Airlangga Surabaya I Wayan Titib Sulaksana angkat bicara tentang insiden perosotan Kenjeran Water Park yang ambrol Sabtu (7/5/2022) beberapa hari lalu. Ia mewanti-wanti polisi agar tidak menjadikan karyawan Kenpark sebagai kambing hitam.


Menurutnya, peristiwa ambrolnya perosotan Kenpark itu memenuhi unsur kelalaian pengelola baik secara perdata maupun pidana. Pengelola yang dia maksud adalah manajemen Kenpark. Bukan para petugas atau karyawan Kenpark.

“Oh tidak bisa. Tanggung jawabnya tetep pimpinan atau direktur Kenpark. Pengelolanya itu. Pasalnya sudah pasti 360 KUHP karena kealpaan (kelalaian) menyebabkan orang lain luka-luka. Itu direkturnya yang (seharusnya) kena,” kata Wayan, Rabu (11/5/2022) kemarin.

Menurut Wayan, penyidik kepolisian harus lebih jeli dalam melakukan kroscek, penyelidikan, dan penyidikan. Sebab, menurutnya para pekerja penjaga wahana perosotan hanyalah karyawan yang menjalankan tugas dari manajemen.

“Karena petugas, kan, hanya menjalankan tugasnya. Masalah teknis kerapuhan (wahana) dan lain-lain, masa iya petugasnya yang salah? Jangan dialihkan kesalahan itu pada karyawan. Gaji karyawan loh hanya berapa? Tidak benar kalau polisi membelokkan ke sana,” ujarnya.

Sebab itulah Wayan menegaskan, dirinya bakal memelototi jalannya proses penyidikan kasus ambrolnya perosotan Kenpark ini hingga penetapan tersangka. Sebab, berdasarkan pengalamannya dalam kejadian-kejadian serupa kerap terjadi saling lempar tanggung jawab.

“Nah, kalau wes kayak ngene (sudah seperti ini), biasanya saling lempar tanggung jawab. Jangan lah. Petugas itu buruh, pekerja. Sekarang saja petugasnya sudah ketakutan, padahal kesalahan bukan pada petugas, tapi pada pengelola. Jangan sampai polisi membelokkan arah ke petugasnya.”

Wayan pun memberikan contoh kasus serupa yang kemungkinan terjadi di tempat hiburan lainnya. Pada intinya, dia ingin menyampaikan bahwa ketika terjadi sesuatu yang membahayakan hingga melukai pengunjung, yang seharusnya bertanggung jawab penuh adalah manajemen.

“Contoh lain, misalnya ada penonton yang kecokot tangane (tergigit tangannya) oleh singa di kebun binatang, nah kan tetap saja pengelolanya (yang bersalah),” lanjut dia. (Din/RED)