Trenggalek, BeritaTKP.com – Ratusan karung pupuk bersubsidi yang dijual ilegal oleh warga Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek telah dipastikan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Setempat bahwa itu bukanlah alokasi untuk para petani di Kabupaten Trenggalek.

Ungkap kasus penjualan pupuk subsidi ilegal di Kabupaten Trenggalek

Kasi Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek, Sadriyati menjelaskan, distribusi dan penyaluran pupuk subsidi di wilayahnya masih lancar.

“Lancar dan stabil sampai Mei, yang laporan terakhirnya Juni ini,” kata Sadriyati, Senin (13/6/2022) kemarin.

Ia juga menjamin, pupuk subsidi yang dijual oleh tersangka M (46) merupakan alokasi pupuk subsidi bagi daerah lain. Bukan bagi Kabupaten Trenggalek.

Sadriyati menuturkan, beberapa jenis pupuk yang disita dan kini jadi barang bukti kepolisian itu bukan termasuk pupuk yang dialokasikan untuk petani di Kecamatan Durenan.

Perlu diketahui, selain menjual pupuk secara ilegal dan di atas harga eceran tertinggi (HET), tersangka M juga penyalur resmi pupuk subsidi dari pemerintah ke petani.

“Dalam barang bukti yang ada, ada pupuk ZA dan SP-36. Dan keduanya tidak ada alokasinya untuk Kecamatan Durenan,” sambungnya.

Jadi apabila tersangka menyalurkan dua pupuk itu, menurut Sadriyati, hal tersebut jelas menyalahi aturan.

“Iya, karena tidak ada alokasi di wilayahnya,” sambungnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polres Trenggalek membongkar praktik penyelewengan pupuk subsidi, Senin (13/6/2022) kemarin.

Pupuk tersebut dijual oleh M (46), warga Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.

Dari tersangka, polisi menyita 313 sak pupuk subsidi kemasan aneka jenis.

Wakapolres Trenggalek, Kompol Haryanto menjelaskan, pupuk yang disita terdiri dari 18 sak Urea, 32 sak NPK, 17 sak SP-36, 52 sak ZA, dan 192 sak petroganik.

Kecuali pupuk petroganik yang berisi 40 kilogram (kg) per kantong, seluruh pupuk yang disita punya berat 50 kg per karung.

Kompol Haryanto menjelaskan, tersangka mendapat pupuk subsidi itu dari seorang sales keliling.

Pupuk itu, menurut dia, besar kemungkinan didatangkan dari Kabupaten Tulungagung.

Itu artinya, pupuk subsidi yang dijual tersangka bukan merupakan pupuk jatah para petani di Kabupaten Trenggalek sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK).

Tersangka M disebut menjual pupuk subsidi secara ilegal untuk mencari untung.

Ia menjual pupuk itu dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Contohnya, pupuk Urea yang harga eceran tertingginya Rp 112.500, dijual Rp 200 ribu per karung,” katanya.

Selain karena menjual di atas HET, tersangka juga melanggar hukum karena penjualan pupuk subsidi tak bisa dilakukan secara sembarangan. (Din/RED)